Perlukah Kita Musuh?
Siapa pun tidak ingin memiliki musuh. Lebih asyik mempunyai banyak teman. Akan tetapi, bukan berarti musuh itu tidak berguna. Kita juga perlu musuh.
"Mba, aku mau curhat nih. Aku dimusuhi teman satu kelompok sendiri. Aku tidak pernah ditegur lagi. Mereka suka mengatakan yang macam-macam, katanya aku egoislah, suka ngaturlah. Pernah aku datangi mereka di kantin. Mereka yang tadinya rame jadi terdiam. Aku kesal deh, pokoknya. Sebal. Dulu, kita sudah berteman dekat sekali. Sampai orang tua masing-masing pun kenal baik," curhat Lia lewat telepon.
Ini adalah salah satu cantoh bentuk hubungan yang bermusuhan. Berbeda dengan berteman, punya musuh dapat membuat kita bingung dan pusing. Kita jadi cenderung memasang pertahanan diri yang kuat.
Seharusnya, musuh hanya dianggap sebagai lawan. Sama seperti tim basket sekolah lain yang jadi lawan kita merebutkan piala juara. Tipe musuh seperti ini, seharusnya dibatasi oleh waktu dan aturan tertentu.
Ada juga tipe musuh yang menimbulkan konflik seperti yang dialami Lia. Tidak ada batas waktu yang pasti dan dapat berlarut-larut. Jika kita mempunyai musuh jenis ini, ingatan kita langsung tertuju ke pertengkaran, sikap yang ketus, serta omongan-omongan yang buruk. Jika bertemu, kita langsung pasang kuda-kuda sekaligus jaga gengsi. Tak heran jika mendengar kata musuh, bayangan kita hampir selalu negatif.
Sebenarnya, banyak hal positif yang dapat diambil saat kita berada dalam posisi berhadapan dengan 'musuh'. 'Musuh' itu menyimpan potensi-potensi yang bermanfaat bagi kita, antara lain sebagai berikut.
Jadi Motivator
Kita dapat memanfaatka musuh sebagai motivator untuk menjadi yang lebih baik. Saat kita meyadari punya musuh, kita akan memperkuat diri. kita ingin mempunyai nilai lebih dibanding musuh kita. Tidak mau dianggap remeh. Semakin kita mengaggap hebat musuh kita, semakin kuatlah diri kita untuk menjadi lebih baik. Asyik juga, ya?
Penunjuk Kelemahan
Musuh pasti semangat mengatakan semua kelemahan dan kekurangan kita. Misalnya musuh kita mengatakan "Kamu pengecut. Beraninya omaomg di belakang. Jika berani, katakan, disini coba!" Diam-diam kita menyadari jika kita berani omong di belakang saja. Dengan demikian, kita perlu berterima kasih kepadanya.
Uji Mental
Teman cenderung membuat kita nyaman dan tak ada tantangan. Lain dengan posisi musuh yang membuat kesiapan mental kita lebih tinggi. Lewat musuh. kita menguji kemampuan mengendalikan emosi. Kita juga belajar bersikap tepet dalam situasi sulit serta pandai mengelola diri supaya tidak terjebak dalam bad mood.
Mengasah Logika
Bersama teman yang seiring sejalan, kita akan menjadi subjektif menilai sesuatu atau diri sendiri. Dengan adanya musuh, minimal kita dipaksa untuk menilai sesuatu dari dua sudut pandang dan kepentingan yang berbeda. Kita terpaksa mengasah otak, mencari argumen yang tepat dan mencari pembenaran yang tidak asal menang saja. Dengan begitu, wawasan kita makin luas dan lebih kritis.
Banyak kan keuntungan yang dapat disedot dari musuh kita. Oleh karena itu, rugi sekali kita hanya memikirkan sisi negatifnya saja saat kita punya musuh. Iya kan??
JURUS ANDALAN MENGHADAPI MUSUH
Supaya mendapatkan manfaat dari musuh, kita perlu jeli dan strategi yang tepat. Ini jurus-jurus andalannya. Jika dalam posisi tanding, kita dapat melihat pola-pola serangan musuh. Jika terdesak, kita jadi sadar bahwa kita masih mempunyai titik lemah. Dengan begitu, kita dapat mengurangi titik lemah tadi. Jika dalam posisi konflik, usahakan untuk mengendalikan diri. Jangan sampai pikiran kita dibuat buntu oleh emosi. Dengan begitu, kita dapat mengukur perkembangan daya tahan mental kita.
Apabila tidak punya musuh, kita dapat menciptakan 'musuh' lewat teman kita. Misalnya, jika komentar sesuatu, kita boleh berbeda dengan teman. Dari sini, akan muncul perdebatan yang akan mencerdaskan kita.
15 Februari 2011 by: buku "Bahasa Indonesia untuk SMP kelas VII" :)
Comments
Post a Comment